PENGUAT AUDIO KELAS D
*PENGERTIAN
Tujuan dibuatnya
penguat audio adalah untuk mereproduksi ulang sinyal audio masukan ke level
volume tertentu sesuai keinginan dengan tingkat fidelitas yang tinggi.
fidelitas (fidelity) yang berarti seberapa mirip bentuk sinyal keluaran hasil
replika terhadap sinyal masukan. Penguat audio yang baik harus mempunyai
tanggapan frekuensi antara 20 Hz – 20 KHz.
Penguat kelas D
menggunakan teknik PWM (pulse width modulation), dimana lebar dari pulsa ini
proporsioal terhadap amplituda sinyal input. Pada tingkat akhir, sinyal PWM
men-drive transistor switching ON dan OFF sesuai dengan lebar pulsanya.
Transistor switching yang digunakan biasanya adalah transistor jenis FET.
Penguat audio kelas D memiliki efisiensi
yang jauh lebih baik dibandingkan penguat-penguat audio pendahulunya seperti
penguat kelas A, kelas B dan kelas AB. Penguat audio kelas AB secara teoritis
mempunyai efisiensi paling bagus sekitar 78,5% sebelum dibebani Speaker. Saat
dibebani speaker efisiensinya bisa turun menjadi 50%. Saat ini penguat audio
kelas D mempunyai efisiensi 90% saat dibebani speaker. Sementara secara
teoritis penguat audio Kelas D mempunyai efisiensi ideal 100%.
Efisiensi
yang tinggi berarti akan menghasilkan disipasi daya yang rendah, dengan
demikian daya yang terbuang relatif lebih rendah jika dibandingkan penguat
kelas A, B maupun AB. Karena penguat audio kelas D bisa dibilang hemat daya
maka penguat ini tidak membutuhkan pendingin (heatsink) yang besar dan catu
daya yang besar pula.
Dengan
penggunaan pendingin dan catu daya yang relatif kecil, merupakan sebuah
keuntungan utama dari penguat audio kelas D ini. Aplikasi penguat audio kelas D
sekarang ini sudah sangat populer seperti untuk perangkat audio jinjing,
home-theaters, penguat audio mobil dan sebagainya tanpa menghilangkan sisi
fidelitasnya.
*GAMBAR RANGKAIAN
*KELEBIHAN
*Disipasi
panas rendah
*Ukuran tidak
terlalu besar
*Tidak terlalu
berat
*Efisiensinya
tinggi
*KEKURANGAN
*Membutuhkan
catu daya sangat bersih dan stabil
*Respon frekuensi tinggi
tergantung pada impedansi loudspeaker
*KESIMPULAN
Penguat
audio kelas D pertama kali dikenalkan pada tahun 1958, dan telah menjadi
semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Penguat Audio kelas D pada
dasarnya adalah switching-amplifier atau Pulse Width Modulation-Amplifier.
Penguat audio kelas D mempunyai efisiensi 90% saat dibebani speaker. Sementara
secara teoritis penguat audio Kelas D mempunyai efisiensi ideal 100%.
Penguat audio kelas A
akan menguatkan seluruh siklus sinyal masukan. Penguat kelas B hanya menguatkan
setengah siklus sinusoida sinyal masukan. Penguat audio kelas AB menguatkan
sinyal lebih dari setengah siklus baik positif maupun negatif.
Penguat audio kelas D
adalah sebuah amplifier switching atau PWM. Sinyal audio masukan digunakan
untuk memodulasi sinyal pembawa PWM yang mendorong penguat akhir. Sebelum
diumpankan ke speaker terlebih dahulu dilewatkan Low Pass Filter (LPF).
*DAFTAR PUSTAKA
Gaalaas Eric, Class D
Audio Amplifiers : What, Why, and How, http://www.analog.com/library/analogDialogue/archives/40-06/class_d.html, diakses tanggal 12
Januari 2015.
Honda Jun & Adams Jonathan, Class D Audio Amplifier Basics,
International Rectifier, California, 2005.
International Rectifier, Class D Audio Amplifier Design, www.irf.com, diakses tanggal 10 Januari 2015.
Kartino, IRS-900D Class-D Amplifier Tutorial. Makalah, tidak dipublikasikan.
Maldonado Joseph & Vega Jeovany, Class D Power Amplifier,
California Polytechnic State University, San Luis Obispo, 2010.
NN. Class D Power Amplifier, http://www.circuitstoday.com/class-d-power-amplifiers, diakses tanggal 12
Januari 2015.
TERIMA KASIH

Tidak ada komentar:
Posting Komentar